EDITORIAL RDS FM
Edisi 16 Muharram 1433 H/ 12 Desember 2011 M
UMMAT BUTUH PENCERAHAN, BUKAN FITNAH DAN ADU DOMBA
Sosok Prof. Dr. Said Aqil Siradj kembali disorot. Pria kelahiran Cirebon, 03 Juli 1953 yang saat ini menjabat sebagai Ketua Umum PBNU itu dalam sebuah workshop “Deradikalisasi Agama Berbasis Kyai/Nyai dan Pesantren” di Park Hotel, Sabtu (3/12) lalu melontarkan pernyataan yang cukup mengejutkan. Kyai Said menunjuk beberapa yayasan, tokoh dan ormas Islam di Indonesia yang siap untuk mendirikan Negara Islam di Indonesia melanjutkan perjuangan DI/TII Kartosoewirjo, meskipun tak terang-terangan dengan mengangkat senjata.
Diantara ormas dan pesantren yang dituding oleh Kyai Said akan mendirikan Negara Islam itu adalah Hidayatullah bentukan KH. Muhammad Sa’id dan kini dipimpin oleh K.H. Dr. Abdul Manan. Selain itu, ia juga menyebut sejumlah yayasan yang dituding mengajarkan radikalisme seperti Yayasan Al Sofwa, Yayasan As-Sunnah, Yayasan Al-Fitrah, Yayasan Al-Faruq, Yayasan Ulil Albab, Yayasan Ihya Turats, dan Yayasan An-Nida. Kyai Said juga menuding sejumlah nama seperti Ustad Aman Abdurrahman dan Ustad Farid Oqbah sebagai pimpinan Yayasan Al-Sofwa yang dianggapnya telah mengajarkan kekerasan dan bercita-cita mendirikan Negara Islam.
Menariknya, ternyata apa yang disampaikan Kyai Said itu banyak yang janggal dan perlu dipertanyakan validitas data dan sumbernya. Seperti misalnya menyebut Ustad Farid Oqbah sebagai pimpinan Yayasan Al-Sofwa. Padahal Ustad Farid bukanlah pimpinan di Yayasan itu namun pimpinan di Islamic Center Al-Islam Bekasi. Disamping itu, kita juga layak bertanya, jikapun mereka yang dituding itu benar-benar ingin menegakkan Negara Islam lantas apa yang keliru? Apakah salah jika seorang Muslim bercita-cita mendirikan apa yang disebutnya sebagai Negara Islam? Jikapun ada perbedaan cara memahami konsep Negara Islam, maka sebagai seorang pimpinan ormas Islam besar di Indonesia dan intelektual, seharusnya Kyai Said mengedepankan dialog. Bukankah dialog dan diskusi itulah yang selama ini ia gembor-gemborkan dimana-mana?
Kalau kita coba lihat dan dengar pernyataan yang sering dilontarkan oleh Doktor Bidang Aqidah/ Filsafat Islam University of Umm al-Qura, Makkah itu memang patut disayangkan. Sebut saja beberapa waktu lalu, Kyai Said menyebut bahwa situs yang mengajarkan radikalisme jauh lebih berbahaya daripada situs pornografi. Bahkan terlontar pula dan ini diberitakan di banyak media bahwa Kyai Said menyatakan situs porno secara hukum fikih tak berdosa, hanya makruh. Alasannya, kalaupun toh merusak sifatnya personal. Namun jika situs berbau radikal akan merusak banyak orang atau kolektif. Kesimpulan hukum seperti ini tentu menarik untuk dikritik. Bisa-bisanya dan tega-teganya, seorang pakar agama bertitel Profesor Doktor menyatakan seperti itu. Padahal, siapapun meski tak bertitel Profesor bidang agamapun akan tahu bahwa situs porno itu begitu merusak akhlak manusia.
Kita khawatir, pernyataan seperti ini akan berdampak buruk tidak hanya bagi pemahaman ummat Islam, namun juga akan semakin meretakkan ukhuwah Islamiyah yang di jaman ini telah menjadi barang mahal. Kalau pernyataan-pernyataan semacam ini dilontarkan oleh orang yang tak paham agama dan tak menduduki posisi penting di tengah ummat barangkali tak begitu menjadi masalah dan dapat dimaklumi. Namun menjadi sangat mengherankan jika seorang Profesor dan ahli agama melontarkan suatu tudingan yang tentu akan sangat sulit dipertanggungjawabkan kebenarannya. Wallahu a’lam bishshowab. Demikian editorial RDS FM untuk kali ini. Wassalam.
Ustadz Muinudinillah: Ulama itu Harus ...
Ratusan Umat Islam Solo Gelar Aksi ...
Aksi Damai Dukung FPI digelar di depan ...
Fujamas Akan Adakan Munasoroh Suriah
Streaming Radio