EDITORIAL RDS FM

Edisi 29 Robi’ul Awwal 1433 H/ 22 Februari 2012 M

 

Serangan Brutal Kaum Liberal

 

Kaum liberal di Indonesia terus saja membuat ulah. Belum lama ini, dengan memanfaatkan isu penolakan segerombolan orang yang mengatasnamakan suku Dayak terhadap kehadiran Front Pembela Islam (FPI) di Kalimantan Tengah, kaum liberal menggulirkan wacana Indonesia Tanpa FPI.

Dibalik gerakan itu ada para tokoh muda liberal di Indonesia. Sebut saja Ulil Absar Abdalla, Guntur Romli dan gerombolannya serta para aktivis LSM dan seniman berhaluan liberal seperti putri Gusdur Alissa Wahid, Vivi Widyawati dari LSM Perempuan Mahardika, novelis Ayu Utami serta sutradara Hanung Bramantyo.

Mereka dan sederet gerombolan liberal di Indonesia lainnya melakukan manuver brutal menyerang apa yang mereka sebut sebagai aksi kekerasan FPI. Di media jejaring sosial seperti twitter dan facebook mereka mengeluarkan gagasan yang sebenarnya bukan hal baru ini.

Sejak lama sebenarnya kelompok liberal ingin supaya FPI dan organisasi yang senada dengannya dibubarkan. Maklum saja, para pemuja kebebasan itu merasa terusik dengan berbagai counter yang diberikan oleh organisasi itu terhadap keliberalan mereka. Bagi Anda yang rajin mengikuti perkembangan di media Islam atau internet maka akan banyak menjumpai tulisan ataupun ceramah dari Ketua Umum DPP FPI, Habieb Rizieq Shihab tentang kebobrokan gagasan liberal yang selama ini mereka suarakan.

Kebencian kaum liberal terhadap pihak yang selama ini anti dengan liberalisme kian nampak. Lihat saja kicauan mereka di dunia maya yang seringkali mendiskreditkan pihak yang tak sependapat dengan ide liberal mereka. Di satu sisi, kaum liberal itu mengklaim anti kekerasan dan cinta damai serta sangat toleransi. Namun dalam kenyataannya, mereka adalah orang yang paling tidak toleran terhadap pihak yang berseberangan pendapat dengan mereka. Salah satu buktinya, kaum liberal itu akan memberikan stigma atau label negatif terhadap pihak yang berbeda pandangan dengan mereka. Misalnya saja julukan Islam garis keras, fundamentalis, wahabi dan sederet julukan lainnya.

Sesungguhnya, kita tak perlu membenci kaum liberal itu. Kita justru harus mengasihani mereka karena mereka gigih dengan ketersesatannya menggugat paham pokok keislaman yang sudah selesai dan tak perlu dipermasalahkan. Yang perlu kita lakukan adalah melakukan kritik atau koreksi terhadap paham liberal yang mereka usung. Salah satunya adalah dengan mendukung gerakan Indonesia Tanpa JIL atau bahkan lebih luas dari itu, Indonesia Tanpa Sepilis (Sekularisme, Pluralisme, dan Liberalisme).

Mengapa kita harus menolak liberalisme? Sederhana saja. Kita menolaknya sedikitnya karena dua hal. Pertama, kita cinta Islam yang kita yakini kebenarannya secara mutlak. Kedua, kita cinta negeri ini. Ya, para penolak liberalisme sejatinya adalah orang yang tidak ingin negeri yang mereka diami menuju ke arah kehancuran akibat ulah kaum liberal. Wallahu a’lam bishshowab. Demikian editorial RDS FM untuk kali ini. Wassalam.

Download filenya disini