EDITORIAL RDS FM

Edisi 26 Muharram 1433 H/ 22 Desember 2011 M

PLUS MINUS PROGRAM CAR FREE NIGHT

Tahun baru Masehi akan segera tiba. Bisa dipastikan, pada malam hari pergantian tahun itu kota Solo akan semrawut. Jalanan menjadi padat oleh manusia dan kendaraan bermotor yang sudah dipersiapkan untuk sekedar berpawai keliling kota yang tak jelas tujuannya.

Namun, ada satu hal menarik yang akan terjadi di malam tahun baru nanti. Pemerintah Kota Solo berencana akan melaksanakan program car free night di Jalan Slamet Riyadi Solo sepanjang 5,8 kilometer. Pada saat itu, kendaraan bermotor akan dilarang melintas di jalanan utama Kota Solo itu setidaknya mulai pukul 21.00 WIB hingga tengah malam. Namun, bukan berarti bahwa jalan Slamet Riyadi akan sepi dari lautan manusia. Pemkot Solo akan menggelar serangkaian acara pesta rakyat dan budaya berbentuk kirab dan sebagainya pada malam itu.

Kegiatan ini baru pertama kalinya akan dilakukan di Solo. Tampaknya, car free night ini terinspirasi dari program yang telah berjalan yakni car free day di hari Ahad pagi mulai pukul 05.00-09.00 WIB yang mulai dijalankan pada 30 Mei 2010 lalu itu.

Untuk mengantisipasi terjadinya tumpukan manusia dan kendaraan pada malam hari itu, Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Solo telah menyiapkan sedikitnya 17 kantong parkir di sekitar Jalan Slamet Ruyadi. Hal itu dimaksudkan sebagai langkah antisipasi serbuan masyarakat kota Solo dan sekitarnya yang ingin merayakan malam tahun baru. Kepala Bidang (Kabid) Lalu Lintas Dishub Kota Solo, Sri Baskoro mengatakan, jalan Slamet Riyadi tidak akan sepenuhnya ditutup total dalam CFN mendatang. Dishub akan melakukan sistem buka-tutup pada dua perempatan besar, yakni perempatan Gendengan dan perempatan Nonongan.

Program car free night (CFN) ini sebenarnya ada plus minusnya. Di satu sisi, CFN akan dapat membebaskan jalan Slamet Riyadi dari konvoi malam tahun baru yang selama ini selalu dilakukan masyarakat yang gemar berhura-hura. Namun di sisi lain, penutupan jalan Slamet Riyadi ini tentu akan menjadikan penumpukan kendaraan di ruas jalan lain di Kota Solo, baik jalan besar maupun jalan alternatif. Ini terbukti ketika pelaksanaan kirab Solo Batik Carnival (SBC) yang digelar malam hari beberapa waktu lalu. Ketika itu, banyak ruas jalan yang menjadi macet akibat kegiatan itu.

Belum lagi jika kita tinjau dari sisi syariat. Sudah barang tentu banyak pelanggaran dan maksiat bertebaran di malam hari itu. Apalagi dengan diadakannya kirab dan pesta rakyat. Oleh karenanya, pilihan terbaik dan terbijak bagi kita untuk menyelamatkan diri dari maksiat di malam itu adalah tetap tinggal di rumah atau kediaman masing-masing, terkecuali ada sebuah kebutuhan yang mengharuskan kita untuk meninggalkan rumah. Wallahu a’lam bishshowab. Demikian editorial RDS FM untuk kali ini. Wassalam.

Download filenya disini