Hari ini, Sabtu 28 Januari 2012, bedah buku Koreksi dan Dekonstruksi Gerakan Deradiklisasi di Indonesia kembali di adakan. Kali ini berada di Masjid Al Fajar di Jalan Situsari 6 Bandung.

Acara ini di hadiri sekitar 700 jamaah putra dan putri ini. Pembicara pertama adalah ustadz Mudzakir yang mewakili MUI Solo. Kemudian KH Aminudin Yakub dari MUI Pusat, dan KH Athian Ali sebagai pembicara tuan rumah, serta Hedi Muhammad sebagai moderator.

Ustadz Mudzakkir menerangkan bahwa umat Islam tidak boleh begitu saja percaya dengan ocehan dari kalangan anti Islam yang terus menyudutkan umat Islam dengan menuduh mereka sebagai teroris. Umat Islam juga di ingatkan agar lebih berhati-hati dalam menerima berita yang di suguhkan oleh kalangan sekuler.

Mudzakkir mengigatkan bahwa Islam mengajarkan untuk bertabayyun (cek dan ricek) dalam menerima setiap berita. Maka apabila tidak ada bukti bahwa para pelaku teror selama ini adalah umat Islam, maka jangan begitu saja percaya media yang mengabarkan berita menyudutkan Islam.

Sementara itu KH Aminudin juga mengamini tentang pentingnya tabayyun, dan menerangkan bahwa Amerika dan Israel telah berusaha sekuat tenaga untuk memojokkan Islam dan umat Islam dengan isu terorisme yang hingga sekarang masih belum memiliki definisi tegas.

Umat Islam juga tidak boleh terjebak dalam tipologisasi sepihak oleh kalangan sekuler terhadap pengkotak-kotakan Islam dengan istilah bermacam-macam seperti Islam garis keras, fundamentalis, wahabisme, dan Islam Moderat. Islam adalah satu yang bersumber dari Al Quran dan Sunnah.

Sebagai wakil dari MUI Pusat, KH Aminudin menegaskan bahwa MUI tidak sepandangan dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dalam mendefinisikan makna terorisme, dan MUI memiliki cara tersendiri untuk melakukan upaya deradikalisai yang tidak memecah belah umat dan memojokkan Islam. Aminudin juga menegaskan, deradikalisasi versi BNPT adalah de-ideologisasi aqidah umat Islam dan sangat berbahaya bagi umat Islam dan MUI tidak sepakat dengan hal tersebut.

Sebagai penutup KH Athian Ali menegaskan, bahwa jika Amerika tega melakukan konspirasi pembunuhan massal pada 11 September 2001, maka apakah tidak mungkin mereka juga tega melakukan konspirasi yang sama di Indonesia.

Jadi kasus terorisme di Indonesia yang semakin memojokkan Islam perlu di cermati lebih jauh dan tidak boleh di percaya begitu saja. KH Athian juga menegaskan bahwa lahirnya buku daru MUI Solo ini telah semakin gamblang menggambarkan pada kita, tentang kondisi umat Islam yangg telah di pecah belah.

Umat Islam harus mau kembali pada Quran dan Sunnah dan meyakini bahwa Islam hanya satu yaitu Islam yang kembali pada Quran dan Sunnah.

Pada sesi tanya jawab, salah seorang penanya mengusulkan agar media Islam memiliki peran yang lebih signifikan, dan bersatu mendirikan wadah pemersatu media Islam di Indonesia. Acara yang dimulai pada pukul 9 pagi ini, diakhiri pada pukul 12 siang menjelang adzan solat Dzuhur.

ZF