Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

RDS TV

News RDS

Agenda RDS

Zona Muslimah

Laporan S3 RDS

Kolom Kru RDS

Kru RDS

Renungan Yang Akan Membuatmu Nangis (Untukmu Wahai Istri)

[Ayo Ngaji] Bersama Ust. Tri Asmoro Kurniawan - Edisi 2 April 2015

[Ayo Ngaji] Bersama Ust. Nashirudin - Edisi 5 April 2015

[Ayo Ngaji] Bersama KH. Wahyudin - Dari Masjid Baitussalam Ponpes Al Mukmin Ngruki

Ust. Abdul Somad, Lc. MA Dukung 101.4 RDS FM

Editorial - Mengapa Buku diganti Kartu Nikah?



Kementerian Agama (Kemenag) melalui Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Islam (Dirjen Bimas) mencoba terobosan inovasi berupa penerbitan kartu nikah. Inovasi ini diklaim sejalan dengan peluncuran Sistem Informasi Manajemen Nikah Berbasis Wabsite (Simkah Web).

Ditjen Bimas Kemenag, Muhammadiyah Amin mengatakan pada tahap awal akan diluncurkan satu juta kartu nikah. Satu juta kartu nikah akan diterbitkan pada hari ini untuk pasangan yang tersebar di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung dan lain sebagainya.

Sebagai informasi, kartu nikah berisi tentang informasi pernikahan yang bersangkutan seperti nama, nomor akta nikah, nomor perforasi buku nikah, tempat dan tanggal nikah. Di dalam kartu nikah tersebut, akan ada kode QR yang terhubung dengan aplikasi Simkah (Sistem Informasi Manajemen Nikah).

Alasan penerbitan kartu nikah. Salah satunya semakin menjamurnya hotel syariah yang mensyaratkan adanya bukti nikah untuk pasangan yang hendak menginap.

Inovatif. Pembaruan data masyarakat dengan kemajuan teknologi patut diapresiasi. Selain, biaya pembuatan kartu nikah tidak semahal e-ktp atau bahkan buku nikah itu sendiri.

Namun, hal ini perlu diperjelas dahulu maksud dan tujuannya. Apakah pembuatan kartu nikah merupakan suatu kebutuhan yang mendesak dilaksanakan ataukah tidak.

Jangan sampai rencana pemerintah ini justru menyulitkan masyarakat. Sebab, sejauh ini tujuan Kemenag adalah kepraktisan. Apakah selama ini buku nikah dianggap tidak praktis? Sehingga sulit dibawa? Benarkah demikian? Padahal buku nikah sangatlah berbeda dengan EKTP. Seringnya, buku nikah disimpan dan tidak dibawa-bawa. 

Untuk itu, pemerintah dalam hal ini Kemenag sebaiknya mematangkan rencana ini secara detail baik tujuan dan maksudnya soal gagasan kartu nikah ini.

Segera! Buku Nikah Akan Diganti Kartu

Kartu Nikah (Foto/Dok.Kemenag)
Kementerian Agama secara resmi meluncurkan kartu nikah sebagai pengganti buku nikah pada 8 November 2018. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, kartu nikah dibuat agar dokumen administrasi pernikahan bisa lebih simpel disimpan, jika dibandingkan buku nikah yang tebal.

"Kami ingin lebih simpel seperti KTP atau ATM yang lain, jadi itu bisa dimasukkan ke dalam saku bisa disimpan di dalam dompet," kata Lukman di Bekasi, Jawa Barat, Ahad (11/11/2018). Lukman mengatakan, kartu nikah itu juga dapat memudahkan masyarakat jika ingin mendaftarkan sesuatu yang diperlukan dalam catatan pernikahan.

Menurut dia, model kartu nikah bisa dibawa ke mana-mana dibanding buku nikah. "Bisa memudahkan, ketika kita harus meregistrasi atau memerlukan catatan apakah kita sudah nikah atau belum dan seterusnya dan seterusnya, karena bisa dibawa ke mana-mana," ujar Lukman.

Kementerian Agama menargetkan satu juta kartu nikah bisa disebarkan untuk pasangan yang baru menikah pada tahun 2018. Untuk pasangan yang sudah menikah, suplai kartu nikah dilakukan bertahap. Mengenai perubahan ini, juga disampaikan melalui akun resmi Twitter Kementerian Agama, @Kemenag_RI, pada 8 November 2018.



Peluncuran itu ditandai dengan beroperasinya Aplikasi Sistem Informasi Manajemen Nikah (SIMKAH) berbasis web dan kartu nikah. Disebutkan, Simkah berbasis web merupakan direktori data nikah yang terintegrasi dengan Aplikasi Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) Kementerian Dalam Negeri, dan Sistem Informasi PNBP Online (SIMPONI) Kementerian Keuangan.

Aplikasi SIMKAH Web bisa diunduh di http://simkah.kemenag.go.id/